Latih Kader Posyandu Jadi

Latih Kader Posyandu Jadi "Kader Siaga Stroke" Bagian Neurologi FK UNS Siapkan Penyelamat Pertama di Lingkungan Warga

Ringkasan Singkat

Untuk mencegah penanganan stroke yang terlambat, Tim FK UNS melatih 367 kader kesehatan di 6 posyandu di Kota Surakarta. Para kader posyandu kini dibekali kemampuan untuk mengenali gejala stroke secara cepat dan membantu masyarakat mendapatkan pertolongan medis sedini mungkin.

Mengapa Kader Posyandu Harus Menjadi "Siaga Stroke"?

Stroke sering kali datang tanpa permisi. Banyak warga yang terlambat membawa keluarganya ke rumah sakit karena mengira gejala stroke hanya lemas biasa atau keluhan yang akan membaik dengan sendirinya. Padahal, penanganan stroke memiliki "Waktu Emas" (Golden Period), yaitu 4,5 jam pertama sejak serangan terjadi.

Kader posyandu dan kader kesehatan adalah sosok yang paling dekat dengan warga di lingkungan RT dan RW. Melalui program Pelatihan Kader Siaga Stroke, mereka dilatih menjadi "penyelamat pertama" yang mampu mengenali gejala awal stroke dengan cepat dan mengarahkan keluarga pasien agar tidak menunda pertolongan medis.



Capaian Pelatihan Kader (Target vs Realisasi)

Pelatihan kader yang berlangsung hingga pertengahan tahun dan tuntas pada Agustus 2026 ini mencatatkan hasil yang sangat memuaskan, dengan jumlah Kader Siaga Stroke terlatih mencapai 367 orang.

Para kader yang telah dibekali keterampilan ini pun langsung bergerak aktif melakukan edukasi kepada lebih dari 447 warga di berbagai wilayah, mulai dari posyandu di Pucangsawit, Gilingan, Serengan, Baluwarti, hingga Jagalan.



Apa saja yang dipelajari para kader?

Dalam pelatihan ini, para kader tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga diajak untuk melakukan simulasi dan latihan praktik (role play) agar lebih sigap di lapangan. Mereka dibekali rumus mudah BE-FAST untuk mengenali gejala stroke, yang mencakup pemeriksaan Balance (keseimbangan) jika tiba-tiba sempoyongan saat berjalan, Eyes (penglihatan) apabila pandangan kabur mendadak, serta Face (wajah) untuk melihat adanya wajah atau bibir yang tampak mencong.

Selain itu, kader juga diajarkan untuk mengecek Arm (lengan) apabila terdapat kelemahan anggota gerak dan Speech (bicara) jika pasien mulai berbicara pelo atau sulit berbicara. Unsur terakhir adalah Time (waktu), yang menekankan pentingnya segera menghubungi ambulans atau membawa pasien ke rumah sakit siaga stroke karena setiap detik sangatlah berharga.



Pengetahuan Kader Meningkat Setelah Sosialisasi

Untuk mengetahui manfaat edukasi yang diberikan, peserta menjalani evaluasi melalui pretest sebelum sosialisasi dan posttest setelah materi disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti sosialisasi.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan membantu kader memahami lebih baik tanda dan gejala awal stroke, pentingnya bertindak cepat, serta langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menemukan warga dengan kecurigaan stroke. Dengan pengetahuan yang lebih baik, kader diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan edukasi dan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat saat menghadapi kondisi kegawatdaruratan stroke.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Melalui pelatihan ini, para kader diharapkan semakin sigap dalam mengedukasi keluarga pasien agar tidak menunda pertolongan atau menunggu gejala membaik dengan sendirinya, melainkan segera bertindak ketika menemukan tanda-tanda stroke.

Kader juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menghubungi ambulans dan mengarahkan pasien menuju rumah sakit siaga stroke, serta membantu memastikan waktu terakhir pasien diketahui dalam kondisi normal (last known well) tercatat dengan baik. Informasi tersebut sangat penting bagi tenaga medis dalam menentukan penanganan selanjutnya.




Langkah Selanjutnya

Dengan selesainya pelatihan kader di lapangan pada Agustus 2026 ini, tim pengabdi FK UNS berfokus pada penyempurnaan Buku Saku Kader Siaga Stroke serta penyusunan laporan evaluasi. Diharapkan 367 kader yang telah terlatih dapat terus berperan aktif dalam menjaga masyarakat Solo dan sekitarnya dari bahaya keterlambatan penanganan stroke.